Laurens Ikinia
Dosen Hubungan Internasional Universitas Kristen Indonesia
Ada satu pertanyaan yang mengganggu setiap kali kita membaca kisah Santo Vitalis dari Gaza: berapa banyak orang di sekitar kita saat ini yang sedang melakukan pekerjaan indah yang tersembunyi, sementara dunia dengan percaya diri menghakimi mereka? Berapa banyak orang suci yang kita sebut pendosa karena mata kita terlalu buta untuk melihat melampaui permukaan?
Kisah Vitalis terjadi pada awal abad ketujuh di Gaza—sebuah kota yang saat itu hidup dalam keberagaman iman (Kristen, Yahudi, maupun pagan), namun bersatu dalam satu keyakinan bahwa prostitusi adalah aib moral yang tak terampuni. Di kota itulah seorang pertapa tua berusia enam puluh tahun tiba setelah puluhan tahun hidup menyendiri di padang gurun. Alih-alih mencari ketenangan di usia senjanya, Vitalis justru memilih pekerjaan fisik paling berat yang bisa ia temukan.
Setiap hari, dengan tubuh yang mulai rapuh, ia memanggul batu-batu berat di lokasi konstruksi. Pekerjaan itu menghancurkan punggungnya, meninggalkan tangannya berdarah-darah, dan membuat setiap langkahnya terasa menyiksa. Namun, ia terus bekerja, mengumpulkan beberapa koin setiap hari. Kemudian, setiap malam, ia pergi ke rumah-rumah pelacuran.
Tentu saja, gosip segera menyebar seperti api di musim kemarau. Apakah orang melihatnya masuk ke tempat itu lagi? Seorang pertapa, seorang abdi Allah, masuk ke tempat semacam itu? Ia disebut penipu, munafik, orang yang mengaku kudus tetapi justru menikmati dosa. Orang-orang mulai meludah ketika Vitalis berjalan lewat. Para pengagumnya yang dulu berbalik dengan jijik. Para pemimpin agama mengecamnya. Orang tua menggunakan namanya sebagai peringatan bagi anak-anak mereka tentang bahaya kemunafikan. Dan Vitalis mendengar semuanya. Ia melihat kebencian di mata mereka. Ia merasakan rasa malu yang coba mereka timpakan kepadanya. Namun, ia tidak pernah membela diri. Tidak pernah menjelaskan apa pun. Ia hanya terus pergi ke rumah-rumah pelacuran itu, malam demi malam.
Apa yang tidak diketahui oleh warga Gaza adalah bahwa Vitalis tidak pernah menyentuh perempuan-perempuan itu. Setiap malam, ia datang dengan membawa koin hasil kerja kerasnya, lalu membayar untuk waktu seorang perempuan—dengan jumlah yang sama seperti yang dibayar oleh klien mana pun. Namun, kemudian ia duduk dan berbicara dengannya. Dengan suara lembut ia berkata bahwa perempuan itu tidak harus melakukan semua ini, bahwa ini bukanlah seluruh dirinya, dan bahwa ini bukanlah satu-satunya hal yang bisa ia lakukan.
Ada yang menertawakannya, ada yang menganggapnya gila, ada pula yang menyuruhnya pergi. Namun, sebagian mulai mendengarkan. Vitalis menawarkan sesuatu yang revolusioner bagi mereka yang ingin keluar tetapi tidak melihat jalan: sebuah rencana. Ia menggunakan upah hariannya untuk memberikan mahar—uang yang membuat mantan pelacur bisa dinikahi di tengah budaya yang menganggap mereka tak layak untuk dinikahi. Ia menyediakan rumah-rumah aman. Ia menemukan mereka pekerjaan sebagai penjahit, pembuat roti, atau pelayan di rumah-rumah terhormat.
Ia menghubungkan mereka dengan keluarga yang bersedia menerima mereka. Ia menyelamatkan mereka, satu per satu, malam demi malam. Namun, ada satu syarat: mereka harus berjanji untuk tidak memberi tahu siapa pun. Biarkan mereka berpikir apa pun tentang diriku, katanya. Tetapi kau—kau bisa memulai hidup baru. Tidak ada yang perlu tahu dari mana asalmu. Pergilah. Bangun kehidupan baru. Jadilah bebas.
Vitalis memahami sesuatu yang sangat mendalam: jika orang tahu bahwa ia membantu para pelacur, mereka akan mengawasi perempuan mana yang ia bantu. Perempuan-perempuan itu akan dicap, diidentifikasi, dipermalukan. Awalnya mereka akan diracuni oleh pengetahuan tentang masa lalu mereka. Maka Vitalis memilih untuk disalahpahami. Ia memilih hinaan. Ia memilih untuk membiarkan warga Gaza meyakini dirinya seorang munafik, demi perempuan-perempuan yang ia selamatkan bisa berjalan bebas menjalani hidup baru tanpa kecurigaan membayangi mereka selama bertahun-tahun. Ia menjalani hidup yang melelahkan, mengumpulkan koin hanya untuk memberikannya, menanggung penghinaan publik, membiarkan reputasinya hancur, menerima julukan munafik dan penipu—semua itu agar para perempuan ini bisa memulai hidup bersih tanpa ada yang mempertanyakan masa lalu mereka. Ia meninggal dalam keadaan dibenci. Dan ia memilih itu. Secara sengaja. Demi melindungi mereka.
Kematian Vitalis datang setelah seorang pria menyerangnya di malam hari, entah karena cemburu atau karena germo yang kesal karena para perempuannya terus pergi. Ia berhasil menyeret dirinya kembali ke kamar kecilnya, tetapi pada usia menjelang akhir enam puluhan tahun, setelah bertahun-tahun melakukan pekerjaan fisik yang melelahkan, tubuhnya tidak bisa pulih. Ia tidak punya uang untuk dokter—setiap koin diberikan kepada para perempuan itu. Ia tidak punya keluarga yang merawatnya—ia telah meninggalkan segalanya puluhan tahun lalu. Ia meninggal sendirian, dalam kesakitan, di ruangan yang kosong. Sementara di luar, Gaza berbincang tentang betapa pantasnya seorang munafik mati dalam aib. Syukurlah, kata mereka. Berkurang satu penipu yang berpura-pura suci.
Namun, sesuatu terjadi saat pemakaman. Seorang perempuan muncul. Kemudian yang lain. Kemudian yang lain lagi. Perempuan-perempuan yang sudah bertahun-tahun tidak terlihat di Gaza. Perempuan yang sekarang memiliki kehidupan terhormat—istri, ibu, pemilik toko, pelayan di rumah-rumah baik. Perempuan yang telah melarikan diri dari rumah-rumah pelacuran dan membangun hidup baru yang tidak pernah dipertanyakan karena tidak ada yang tahu masa lalu mereka.
Mereka datang ke pemakaman Vitalis dan mulai berbicara. Ia menyelamatkanku, kata yang satu. Ia memberiku uang untuk mahar ketika aku tidak punya apa-apa, kata yang lain. Ia menemukanku pekerjaan. Ia membantuku melarikan diri. Ia tidak pernah menyentuhku. Ia hanya berbicara kepadaku selayaknya manusia yang mulia. Ia berkata bahwa aku pantas mendapatkan yang lebih baik. Ia membuatku percaya itu.
Satu per satu, puluhan perempuan mengungkapkan kebenaran. Vitalis tidak pernah menjadi klien. Ia adalah penyelamat. Setiap malam yang dilihat Gaza sebagai aib, sebenarnya adalah misi suci untuk memberikan harapan bagi perempuan yang telah ditinggalkan semua orang. Realisasi itu menghantam Gaza seperti gelombang tsunami. Orang suci yang mereka ejek ternyata benar-benar orang suci. Munafik yang mereka hina telah mempraktikkan jenis kasih yang tidak bisa dibayangkan oleh sebagian besar dari mereka. Penipu yang mereka kecam telah menyelamatkan puluhan nyawa sementara mereka sibuk menghukumnya. Ratusan orang datang menangis.
Perempuan-perempuan yang diselamatkannya, yang sekarang menjadi istri dan ibu terhormat, mengusung jenazahnya melewati jalan-jalan kota, meratapi pria yang telah memberi mereka masa depan. Gaza menangis. Bukan hanya untuk Vitalis. Tetapi untuk apa yang telah mereka lakukan kepadanya. Untuk setiap momen, mereka menghakiminya. Untuk setiap kali mereka meludahi kebencian pada seorang pria yang diam-diam merevolusi kehidupan melalui kasih yang penuh pengorbanan.
Kisah ini terasa sangat relevan saat kita merenungkan masa Paskah. Jalan salib yang ditempuh Yesus penuh dengan kesalahpahaman, penghinaan, dan penghakiman dari mereka yang tidak mengerti misi sejatinya. Ia mati sebagai penjahat di mata publik, padahal ia sedang mengerjakan keselamatan seluruh umat manusia. Vitalis, dalam skala yang jauh lebih kecil, meneladani logika Paskah yang sama: kematian demi kehidupan, penghinaan demi kemuliaan orang lain, kesendirian demi kebersamaan yang lebih luas.
Paskah mengajarkan bahwa sering kali pekerjaan terbesar justru terjadi dalam kegelapan, bahwa kebangkitan selalu didahului oleh kematian yang tampaknya sia-sia, dan bahwa penghakiman manusia hampir selalu keliru ketika mereka paling yakin dengan kebenarannya sendiri. Kebijakan politik luar negeri pemerintah Indonesia terkait kondisi Gaza perlu dilihat dalam kerangka refleksi Paskah ini. Berapa banyak kebijakan yang kita nilai sepihak tanpa mengetahui kompleksitas dan beban yang ditanggung oleh para pembuat keputusan? Berapa banyak tuduhan yang kita lontarkan tanpa pernah duduk dan mendengar cerita lengkap dari mereka yang berjuang di balik layar?
Di Gaza hari ini—kota yang sama yang pernah meludahi Santo Vitalis—warga Palestina terus menderita di bawah blokade dan konflik berkepanjangan. Pemerintah Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto telah menunjukkan konsistensi politik luar negeri yang berpihak pada perdamaian yang adil dan berkelanjutan. Menteri Luar Negeri Sugiono, dalam berbagai forum internasional termasuk Sidang Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa di New York, telah menegaskan komitmen mendalam Indonesia untuk berperan aktif dalam mendukung gencatan senjata dan perlindungan warga sipil di Palestina.
Tidak sekadar retorika, Indonesia bahkan menyatakan kesiapannya untuk berkontribusi lebih jauh, termasuk mempersiapkan kemungkinan pengerahan pasukan penjaga perdamaian ke Gaza, yang dapat diawali dengan bantuan kesehatan dan rekonstruksi. Ini adalah langkah berani yang jarang dilakukan oleh negara mana pun, karena mengirimkan pasukan penjaga perdamaian ke zona konflik bukanlah keputusan yang mudah, apalagi bagi negara yang secara geografis jauh dari Timur Tengah.
Sering kali kita mendengar kritik bahwa Indonesia tidak cukup berbuat untuk Palestina. Namun, yang tidak banyak diketahui publik adalah bahwa Indonesia telah terlibat secara aktif dalam mekanisme multilateral pascakonflik. Salah satu bukti nyata adalah partisipasi Indonesia dalam Board of Peace (Dewan Perdamaian), sebuah lembaga yang dibentuk berdasarkan Resolusi Dewan Keamanan PBB 2803 tahun 2025. Presiden Prabowo sendiri telah hadir dalam pertemuan perdana Board of Peace di Washington, D.C., sebuah sinyal politik tingkat tinggi yang menunjukkan bahwa Indonesia tidak main-main dalam memperjuangkan hak-hak rakyat Palestina. Partisipasi ini bertujuan untuk memastikan bahwa setiap keputusan yang diambil selaras dengan Piagam PBB dan upaya multilateral yang ada, serta untuk membuka jalan bagi perdamaian yang adil dan berkelanjutan. Ini bukan pekerjaan yang bisa dilakukan dalam semalam, apalagi dengan kompleksitas politik Timur Tengah yang melibatkan kepentingan berbagai negara adidaya.
Diplomasi Indonesia juga berlangsung intensif di berbagai jalur. Menteri Luar Negeri Sugiono tidak hanya berbicara di podium PBB, tetapi juga melakukan pertemuan bilateral dengan Menteri Luar Negeri Mesir, Pakistan, dan Yordania untuk menyelaraskan langkah dalam mendukung solusi dua negara. Pertemuan dengan Wakil Tetap Palestina untuk PBB, Riyad Mansour, serta dengan Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, menjadi bukti bahwa Indonesia hadir sebagai mitra yang dapat dipercaya dalam penyelesaian konflik di Jalur Gaza.
Sementara rakyat Indonesia mungkin mengira pemerintah diam, di balik pintu tertutup, para diplomat bekerja tanpa lelah menghadapi tekanan dari berbagai negara yang memiliki kepentingan berbeda. Seperti Vitalis yang memanggul batu setiap hari, para diplomat membawa beban negosiasi yang berat, sering tanpa apresiasi, bahkan dikritik habis-habisan oleh masyarakat yang tidak mengetahui seluk-beluk negosiasi internasional.
Kisah Vitalis juga mengingatkan kita pada para pekerja kemanusiaan Indonesia di Gaza, seperti relawan MER-C atau Indonesian Humanitarian Alliance. Mereka setiap hari menghadapi risiko besar. Mereka bisa saja memamerkan pekerjaan demi pujian dan reputasi, namun banyak yang memilih bekerja diam-diam, rela dianggap tidak melakukan apa-apa, demi melindungi keamanan penerima bantuan. Seperti Vitalis yang meminta para perempuan yang diselamatkannya untuk bungkam, para pekerja kemanusiaan sering merahasiakan lokasi persembunyian, rute evakuasi, atau identitas penerima bantuan. Mereka menerima hinaan—dituduh tidak becus, membuang-buang uang negara, atau memiliki agenda politik tersembunyi. Namun, mereka bertahan karena yang dikejar bukan pujian melainkan hasil, bukan reputasi melainkan nyawa yang terselamatkan.
Paskah mengingatkan bahwa kebangkitan tidak terjadi tanpa Jumat Agung yang kelam. Terlalu sering kita ingin kemuliaan kebangkitan tanpa mau melewati penderitaan jalan salib. Kita ingin perubahan instan di Gaza tanpa mendukung proses panjang yang melelahkan. Kita ingin pemerintah bertindak cepat dan tegas, tanpa mengakui bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi, dan bahwa kadang tidak bertindak adalah bentuk tindakan paling bijaksana. Ketika Indonesia memilih bergabung dalam Board of Peace alih-alih bertindak sendiri, itu bukan karena lemah, melainkan karena perdamaian Gaza membutuhkan kerja kolektif internasional, bukan aksi sepihak yang bisa memperburuk situasi. Kesiapan mengirim pasukan penjaga perdamaian juga bukan keputusan instan, melainkan butuh persiapan matang, mandat jelas dari PBB, dan jaminan keamanan.
Kisah Vitalis mengajarkan kesabaran radikal: bertahun-tahun bekerja tanpa hasil langsung, tanpa pengakuan, sementara orang di sekitarnya meludahinya. Namun, kebenaran akhirnya muncul melalui kesaksian mereka yang pernah ditolong. Demikian pula kebijakan luar negeri Indonesia untuk Gaza. Mungkin banyak yang menganggap langkah Indonesia terlalu lambat, terlalu hati-hati, atau bahkan tidak berarti. Namun, sejarah suatu saat akan membuktikan bahwa konsistensi memperjuangkan solusi dua negara, partisipasi aktif dalam mekanisme multilateral, serta keberanian mengirim bantuan dan pasukan penjaga perdamaian adalah langkah-langkah kecil yang membangun fondasi perdamaian kokoh. Seperti para perempuan yang diselamatkan Vitalis baru bersuara setelah ia meninggal, hasil perjuangan diplomatik Indonesia mungkin baru terlihat jelas di masa mendatang.
Refleksi Paskah mengajak kita bertobat dari kebiasaan menghakimi dengan cepat. Kita cepat menyebut kebijakan gagal tanpa tahu seberapa dekat dengan keberhasilan sebelum dihantam faktor tak terduga. Kita cepat menuduh diplomat tidak serius tanpa tahu berapa malam tanpa tidur yang mereka habiskan. Warga Gaza menangisi Vitalis tetapi sudah terlambat—tidak sempat berterima kasih, meminta maaf, atau mengatakan bahwa ia dihargai.
Mungkin kita harus berhenti sejenak sebelum menghakimi, bertanya dengan rendah hati: bagaimana jika aku salah? Bagaimana jika para diplomat dan pekerja kemanusiaan yang kita kecam sedang melakukan sesuatu yang indah? Bukan berarti membungkam kritik, tetapi kritik sehat lahir dari kerendahan hati, bukan kesombongan moral. Vitalis tidak butuh persetujuan Gaza, tetapi Gaza lah yang butuh Vitalis. Semoga kita tidak perlu menunggu sampai para pekerja kemanusiaan gugur atau kebijakan membuahkan hasil, baru menyadari bahwa kita selama ini meludahi orang-orang suci yang berjuang menyelamatkan saudara-saudara di Palestina.


