Sesarius Embos
Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Katolik St. Paulus Ruteng
Adagium “sastra bukan sekadar dongeng, tetapi cermin kehidupan” menjadi perbincangan yang tak pernah usai. Ungkapan tersebut menjadi perdebatan akademis tentang makna yang tersirat di dalamnya.
Sastra itu sendiri adalah bentuk karya seni kreatif yang menggunakan bahasa sebagai medium utamanya untuk menyampaikan gagasan, emosi, dan imajinasi. Karya sastra umumnya bersifat fiktif atau imajinatif dan menonjolkan keindahan estetika dalam penggunaan kata-kata (diksi).
Atas definisi ini, sastra sebagai cermin kehidupan lantaran tidak lahir dari ruang hampa, atau ruang kosong. Namun hakikat kesusastraan itu sendiri sangat erat kaitannya dengan kenyataan yang dijalani sehari-hari.
Meskipun harus diakui bahwa tak sedikit orang awam menganggap sastra hanya sebatas cerita rekaan, kisah-kisah yang tidak nyata, atau hiburan semata yang tujuannya hanya untuk mengisi waktu luang. Padahal sastra jauh lebih besar maknanya daripada sekadar “dongeng”.
Dongeng dan karya sastra dua hal yang berbeda. Keduanya menelurkan nilai substansial masing-masing. Dongeng adalah sebuah cerita untuk menghibur anak-anak. Di mana, unsur kebenarannya tidak dipersoalkan.
Sementara sastra mengandung nilai-nilai kebenaran yang berbentuk cerita, puisi, atau drama yang di dalamnya terdapat tokoh dan peristiwa rekaan. Sebut saja pesan tentang kemanusiaan. Salah satu kekuatan sastra sebagai media pembelajaran, penyampai aspirasi, dan peningkat peradaban manusia.
Sementara sastra sebagai cermin kehidupan mengandung makna bahwa sastra memantulkan cahaya apa saja yang terjadi dalam kehidupan nyata. Sastra adalah wajah relasi sosial kemasyarakatan. Tentunya di mana karya sastra itu lahir.
Artinya, sastra menggambarkan realitas sosial pengarang. Dalam hal ini, apa yang ditulis pasti tidak lepas dari apa yang dilihat dirasakan dan dialami.
Sebut saja, jika karya sastra tersebut berada pada orde perjuangan maka pengarangnya melahirkan sastra perjuangan. Jika zamannya penuh ketidakadilan dan kemiskinan, lahirlah sastra yang penuh kritik sosial dan keprihatinan. Sastra menganggambarkan pola pikir, adat istiadat, masalah dan cita-cita masyarakat pada masa itu.
Sastra juga menggambarkan jiwa dan perasaan manusia. Kehidupan bukan hanya soal apa yang terlihat mata tetapi juga apa yang dirasakan hati seperti cinta, benci, rindu, kecewa, putus asa, hingga harapan.
Sastra adalah wadah paling jujur untuk menampung segala macam emosi manusia yang paling dalam. Lewat sastra bisa “membaca” isi hati manusia, memahami sesama dan belajar merasakan apa yang dirasakan orang lain.
Selain itu, sastra sebagai alat introspeksi. Dalam ini, sastra hadir untuk kritik sosial untuk bercermin apakah wajah bersih atau kotor, rapi atau berantakan. Sastra memperlihatkan hal-hal baik yang patut diteladani, serta hal-hal buruk yang ada di tengah kehidupan agar bisa sadar dan berusaha memperbaikinya.
Lewat cerita-cerita di dalamnya, sastra mengajarkan yang benar dan mana yang salah, mana yang mulia dan mana yang tercela, tanpa terasa menggurui.
Untuk itu, sastra adalah kehidupan itu sendiri yang dibungkus dengan bahasa yang indah. Ia bukan sekadar cerita yang bisa kita anggap sepele, melainkan rekaman sejarah, rekaman jiwa bangsa, dan guru kehidupan yang tak ternilai harganya.
Membaca karya sastra sama artinya dengan membaca kehidupan. Jika hanya membacanya sebagai dongeng akan kehilangan pelajaran besar di dalamnya. Jika membacanya sebagai cermin kehidupan akan menjadi manusia yang lebih paham, lebih bijaksana dan lebih peka terhadap dunia di sekitar.


