SEMARANG – Tim Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) IDBU 71 Universitas Diponegoro menemukan fakta bahwa Tombo Coffee, usaha kedai kopi lokal yang berada di Desa Tombo, Kabupaten Batang, hingga saat ini belum memiliki sistem pembukuan yang tertata dalam menjalankan kegiatan usahanya.
Temuan tersebut diperoleh mahasiswa melalui kegiatan observasi dan perbincangan langsung bersama pengelola usaha sebagai bagian dari rangkaian program kerja di bidang ekonomi dan kewirausahaan pada Kamis (6/8/2026) lalu.
Tombo Coffee merupakan salah satu usaha rintisan berbasis komoditas kopi lokal yang cukup dikenal di kalangan masyarakat Desa Tombo. Usaha ini menyajikan berbagai varian minuman kopi dengan memanfaatkan bahan baku dari petani sekitar, sehingga memiliki potensi besar untuk terus berkembang dan menjadi salah satu penggerak perekonomian warga setempat.
Dalam kunjungannya, mahasiswa KKN-T IDBU 71 berbincang langsung dengan pengelola Tombo Coffee mengenai praktik pengelolaan usaha sehari-hari. Dari perbincangan tersebut, diketahui bahwa pencatatan pemasukan dan pengeluaran selama ini masih dilakukan secara sederhana dan tidak konsisten, bahkan sebagian transaksi tidak dicatat sama sekali.
Selain itu, belum ada pemisahan yang jelas antara keuangan pribadi dan keuangan usaha, sehingga menyulitkan pengelola dalam mengetahui kondisi keuangan usahanya secara pasti.
Padahal, pembukuan merupakan salah satu aspek penting yang perlu dimiliki oleh setiap pelaku usaha, termasuk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) seperti Tombo Coffee.
Melalui pembukuan yang rapi, pelaku usaha dapat mengetahui besaran keuntungan secara akurat, memantau arus kas, mengendalikan biaya operasional, serta mengambil keputusan bisnis yang lebih tepat berdasarkan data, bukan sekadar perkiraan.
Ketiadaan pembukuan yang memadai berpotensi menimbulkan sejumlah risiko bagi keberlangsungan usaha, mulai dari sulitnya mengetahui apakah usaha benar-benar menghasilkan keuntungan, potensi kebocoran keuangan yang tidak terdeteksi, hingga terhambatnya akses terhadap permodalan dari lembaga keuangan maupun program bantuan usaha yang umumnya mensyaratkan adanya laporan keuangan sederhana.
Menindaklanjuti temuan tersebut, mahasiswa KKN-T IDBU 71 Universitas Diponegoro berencana menyusun program pendampingan berupa pelatihan penyusunan pembukuan sederhana bagi Tombo Coffee.
Program ini akan mencakup pengenalan pencatatan transaksi harian, pemisahan kas usaha dan kas pribadi, hingga penyusunan laporan laba rugi sederhana yang mudah dipahami dan diterapkan oleh pengelola usaha.
Melalui program pendampingan ini, mahasiswa KKN-T IDBU 71 berharap Tombo Coffee dapat memiliki tata kelola keuangan yang lebih baik, sehingga usaha dapat berkembang secara berkelanjutan dan mampu bersaing di tengah semakin ketatnya persaingan usaha kuliner berbasis kopi.
Kolaborasi antara mahasiswa dan pelaku usaha lokal diharapkan dapat menjadi langkah awal menuju pengelolaan UMKM yang lebih profesional dan akuntabel.
Menanggapi temuan tersebut, Tarmujo selaku pengelola Tombo Coffee mengungkapkan bahwa bisnis kopi yang ia jalankan sudah dirintis sejak tahun 2013. Menurutnya, seiring berjalannya waktu, pencatatan keuangan yang akuntabel menjadi hal yang penting untuk dimiliki agar usaha mampu bersaing dan bertahan di tengah situasi yang tidak pasti.
“Bisnis kopi ini sudah saya jalankan sejak tahun 2013. Seiring berjalannya waktu, tentu diperlukan pencatatan keuangan yang akuntabel supaya kita bisa bersaing dan bertahan di situasi yang tidak pasti,” ujar Tarmujo.


