BORONG – Penyaluran bantuan korban gempa bumi di Kabupaten Manggarai Timur (Matim) belum merata. Salah satunya kampung Hedok, Desa Satar Punda Barat, Kecamatan Lamba Leda Utara.
Warga kampung Hedok pun meminta kepada Pemerintah Daerah Matim dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) supaya segera mengirim bantuan.
Pasalnya, kampung yang terletak di atas bukit yang belum tersentuh jalan beraspal itu hingga kini belum mendapat bantuan seperti kampung Ranamasa, meskipun sama-sama terisolir.
Warga kampung tersebut baik orang lanjut usia (Lansia), para janda, ibu hamil dan anak-anak sama sekali belum mendapat perhatian khusus dari pemerintah pasca gempa bumi dengan kekuatan 7,7 skala richter pada Sabtu (15/8/2026) lalu.
Hal tersebut diutarakan oleh seorang janda bernama Hilaria Anita melalui sambungan telepon kepada Journalpost.id, Rabu (2/9/2026). “Tolong bantu kami. Kami sangat membutuhkan bantuan saat ini. Kami mau pergi kerja untuk bisa mendapatkan beras tidak bisa karena kami takut dengan gempa yang tidak pernah berhenti selama ini,” tegas Hilaria yang saat ini tinggal bersama ayahnya.
Saat ini kata Hilaria, warga setempat tinggal di posko mandiri seadanya. Hilaria bersama ayahnya tinggal di posko seadanya. Malam hari terasa dingin dan gelap gulita. Pasalnya, Perusahaan Listrik Negara (PLN) belum masuk ke kampung itu.
“Selama ini, kami mendapatkan beras dua gelas saja. Kami masih tinggal di posko yang berdinding menggunakan zink, di alaskan terpal seadanya, dan kasur yang kumuh,” keluhnya.
“Saat ini, kami sangat membutuhkan selimut, apalagi seorang lansia yang sangat tua ini pasti rentan sekali terkena sakit jika tidak memakai selimut yang tebal, memang ada selimut bantuan tapi saat ini kami tidak pernah dapat,” tambahnya.
Hilaria pun meminta Presiden Prabowo Subianto supaya memberi atensi khusus terhadap kampungnya sehingga bantuan bisa langsung turun tanpa birokrasi yang rumit.
“Tolong kami pak, tolong kami, kami memohon kalau bisa juga sampaikan ke presiden Prabowo, tolong kami pak. Saya ini seorang janda pak,” tukasnya.


