BORONG – Yayasan JHL Merah Putih Kasih (JHL Foundation) terus mengepakkan sayap dalam menyalurkan bantuan bagi korban gempa bumi di Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Tim yayasan tersebut, sejak pagi hingga malam masuk ke kampung-kampung yang terdampak untuk memastikan bantuan benar-benar sampai kepada masyarakat.
Hampir 200 paket bantuan kemanusiaan disalurkan dalam perjalanan tersebut, mulai dari wilayah Reok di Kabupaten Manggarai hingga pelosok Manggarai Timur.
Bantuan tersebut menyasar warga di Kampung Barang Kolong dan Kampung Baru, Kecamatan Reok. Kemudian dilanjutkan ke kampung Gongger, Kampung Maki, Kampung Dampek, Golo Kukung Timur, Golo Kukung Barat, Sonot Kecamatan Lamba Leda Utara dan Sambi Mese di Desa Lada Mese.
JHL Foundation menyaksikan langsung sejumlah wilayah dan kerusakan rumah terlihat hampir menyeluruh. Kampung Maki, Desa Satar Kampas, Kecamatan Lambaleda Utara, menjadi salah satu titik yang paling menyentuh.
Banyak rumah warga hancur dan rata dengan tanah. Sejumlah warga meninggal dunia dan lainnya mengalami cedera berat saat gempa terjadi. Mayoritas masyarakat di wilayah tersebut merupakan warga yang memiliki keterkaitan asal dengan Maumere.
Warga setempat mengaku bantuan belum banyak menjangkau kampung karena sebagian distribusi logistik lebih mudah terkonsentrasi di wilayah yang berada di bagian depan atau dekat akses utama.
Karena itu, kedatangan tim JHL Foundation yang masuk hingga ke kampung-kampung pelosok mendapat sambutan penuh haru.
“Terima kasih karena sudah datang sampai ke sini. Kami merasa diperhatikan. Banyak bantuan yang datang, tetapi tidak semuanya sampai ke pelosok. Bapak dan ibu mau masuk dan menyisir sampai ke kampung kami,” ujar salah seorang warga.
Kondisi serupa terlihat di Kampung Dampek, Desa Satar Padut. Banyak rumah warga roboh dan mengalami kerusakan berat. Sejumlah warga juga mengalami cedera serius akibat gempa utama.
Saat tim sedang menyalurkan bantuan, gempa kembali terasa. Warga sontak panik. Beberapa orang bergegas keluar dari bangunan dan mencari tempat terbuka. Suasana yang sebelumnya hangat berubah menjadi tegang dalam sekejap.
Bagi warga yang masih menyimpan trauma, getaran singkat itu kembali mengingatkan mereka pada saat rumah-rumah runtuh dan kehidupan berubah dalam hitungan detik.
Tim JHL Foundation pun ikut merasakan ketegangan tersebut, sebelum kembali memastikan warga berada di tempat aman dan proses penyaluran bantuan dapat dilanjutkan.
Pembina Yayasan JHL Merah Putih Kasih, Jerry Hermawan Lo, mengatakan perjalanan tersebut menjadi pengingat bahwa bantuan kemanusiaan harus bergerak lebih jauh dari sekadar wilayah yang mudah dijangkau.
“Kami tidak ingin bantuan berhenti di tempat yang mudah didatangi. Justru masyarakat di pelosok yang rumahnya hancur dan aksesnya sulit harus kita datangi. Kami ingin melihat sendiri keadaan mereka, mendengar cerita mereka, dan memastikan mereka tahu bahwa ada yang peduli,” ucapnya.
Menurut Jerry, perjalanan panjang tim dari pagi hingga tengah malam tidak sebanding dengan perjuangan warga yang harus menghadapi kehilangan rumah, anggota keluarga, mata pencaharian, sekaligus trauma akibat gempa.
“Kami hanya berjalan dan membawa bantuan selama beberapa hari. Mereka harus hidup dengan dampak bencana ini jauh lebih lama. Karena itu, sedikit yang bisa kami lakukan adalah datang sedekat mungkin kepada mereka,” tegasnya.
Hingga hari kelima, JHL Foundation terus menyisir wilayah terdampak di Flores. Bantuan disalurkan langsung dengan tetap berkoordinasi bersama pemerintah daerah dan masyarakat setempat agar distribusi menjangkau wilayah yang selama ini sulit tersentuh bantuan.
Di pelosok Flores, perjalanan panjang itu kembali menemukan makna sederhana dari kemanusiaan: datang ketika dibutuhkan, mendengar ketika mereka ingin bercerita, dan tidak pulang sebelum memastikan bantuan sampai kepada mereka yang menunggu.


