BORONG – Keluarga Almarhumah Selviana Tinung yang meninggal dunia pasca operasi caesar di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Borong siap menghadapi proses hukum. Pihak keluarga juga siap bertanggungjawab atas semua ucapan yang diutarakan dalam media sosial (Medsos).
Hal tersebut diutarakan oleh perwakilan keluarga Almarhum Selviana, Salesius Janu dalam menanggapi upaya managemen RSUD Borong yang bakal melaporkan dirinya ke Kepolisian Resort Manggarai Timur (Matim).
Akun media sosial yang mengeritik pelayanan di RSUD Borong adalah milik Salesius dengan alamat Eccel J . Dia pun menantang pihak rumah untuk segera membuat laporan polisi.
“Kepada RSUD Borong, saya berharap laporan tersebut segera dilakukan dengan cepat dan kepada Kapolres Manggarai Timur, mohon untuk menerima laporan dari RSUD Borong agar proses permasalahan ini segera terbuka,” ujar Salesius kepada Journalpost.id, Kamis (3/9/2026).
Salesius pun menyayangkan sikap lalai pihak RSUD Borong yang lamban dan lambat menangani pasiennya. Khususnya terhadap Almarhumah Selviana.
Padahal kata Salesius, Almarhumah Selviana berangkat dari Dampek, Kecamatan Lamba Leda Utara ke RSUD Borong untuk kepentingan operasi caesar. Hal tersebut dianggap urgen sebab hasil diagnosis bahwa air ketuban Selviana sudah habis.
Kata Salesius, tenaga kesehatan (nakes) dari Puskesmas Dampek tak ada satu pun yang mengantar Almarhumah Selviana selain ditemani sang suami. Namun tak merinci apa alasan Nakes tersebut tak mendampingi di tengah pelayanan pasca gempa bumi. “Sekitar pukul 23.00 WITA, mereka tiba di RSUD Borong,” katanya.
Setibanya di rumah sakit kata Salesius, tenaga medis yang bertugas menyarankan agar Almarhumah Selviana partus secara normal, namun atas bantuan obat perangsang.
Pada hari kedua terbaring lemah di rumah sakit, sang istri meminta suami untuk menanyakan progres penanganan medis proses persalinan. Namun pihak rumah sakit meminta kepada sang suami Almarhumah untuk menunggu.
Padahal permintaan tersebut dilakukan sang suami lantaran Almarhumah mengalami kesakitan yang tak bisa dibendung. “Almarhumah hanya bisa menahan rasa sakitnya,” jelasnya.
Waktu operasi tersebut pun tetap ditunggu Almarhumah Selviana sang suami. Namun hilal jawaban yang pasti belum mendapat titik terang. Kesakitan Almarhumah Selviana pun tak bisa dibendung.
Salesius bersama istri pun mendatangi rumah sakit. Setibanya di rumah sakit yang terletak di Lehong itu, Salesius langsung menanyakan kondisi Almarhum Selviana kepada suaminya.
Sang suami kata Salesius hanya menjawab seadanya sesuai penjelasan tenaga medis yang bertugas. “Saya minta kepada suaminya, boleh kah kami masuk untuk melihat? suaminya perbolehkan. Karena keterbatasan orang yang masuk di dalam, jadi suaminya tunggu di luar. Saya dan istri masuk ke dalam ruangan,” katanya.
Dalam kamar tersebut kata Salesius, Almarhumah Selviana tak sendirian. Ada satu pasien yang hendak partus yang hanya dibatasi kain horden.
“Masuk-lah saya dengan istri di dalam kamar. Begitu almarhumah lihat saya dan istri, dia lansung tarik tangan dengan peluk dengan kondisi badannya yang sudah lemas,” kisahnya.
Dalam pelukan itu, Almarhumah Selviana meminta kepada Salesius supaya menanyakan kepastian operasi kepada bidan atau dokter yang bertugas. Sebab Almarhumah sudah tidak bisa lagi menahan rasa sakitnya.
“Tolong bantu saya, hanya kamu yang bisa bantu saya. Coba tanyakan ke bidan atau dokter, kapan saya bisa operasi, saya sudah tidak bisa tahan,” kata Salesius meniru celetukan Almarhumah Selviana.
Permintaan Almarhumah Selviana pun dijawab dengan kata-kata penguatan. Salesius meminta kepada Selviana supaya mempercayakan kepada tenaga medis. Sebab Salesius yakin, pihak rumah sakit memberi yang terbaik untuk Selviana.
“Dia tunduk menangis. Permintaan kedua kalinya, saya baru layani. Saya bilang tunggu di sini. Saya keluar dulu, mau tanya bidan di luar,” katanya.
Diusir Bidan
Nahas menimpa Salesius. Sejatinya dia mendapatkan jawaban soal operasi Selviana malah mendapat perlakuan kasar dari seorang tanaga media yang berprofesi bidan.
“Saya pun keluar dari situ (kamar Selviana-red). Begitu saya mau ke arah pintu, tiba-tiba muncul seorang bidan dengan ciri-ciri pendek, badan kecil. Saya tanya, kaka ibu bisa kah saya tanya?. Dia bukannya jawab saya dengan baik, tiba-tiba marah dan suara keras dengan bahasa, kau jangan keluar masuk. Kau keluar, disini ruangan bersalin,” katanya.
Salesius pun kembali bertanya kepada tenaga medis itu. Namun lagi-lagi dia mengusir Salesius untuk tinggalkan ruangan tersebut.
Insiden itu membuat Salesius naik pitam dan ultimatum kepada tenaga medis tersebut kalau terus mengusirnya maka pihaknya akan meminta media untuk meliput.
“Dia lansung teriak, silakan! Kamu pikir saya takut?. Istri saya pun suruh saya supaya tidak perlu ladeni mengingat ada pasien dalam ruangan tersebut,” Jelasnya.
Permintaan sang istri pun diindahkan Salesius. Dia pun melanjutkan konfirmasi ke bagian ruangan informasi publik untuk menanyakan waktu operasi terhadap Selviana.
Merasa jawaban petugas tersebut cukup informatif yang menyebut sudah masuk fase pembukaan tujuh. Salesius pun kembali ke ruangan Selviana dan memintanya untuk bersabar sembari berdoa.
Situasi pun kata Salesius terlihat aman dan diterima oleh Selviana. Bidan yang sebelumnya mengusir Salesius juga turut memberi pemahaman kepada Selviana. “Kami semuanya diam dan saya pun pamit keluar,” katanya.
Beberapa menit kemudian, petugas medis menghampiri Salesius dan suami Selviana. Dia pun ungkit kembali pernyataan Salesius yang akan melaporkannya kepada pers soal lamanya tindakan operasi untuk Selviana.
“Saya pun berdiri dan tanya balik. Ibu kenapaributin kembali, masalahkan sudah selesai. Kenapa ibu tunjuk saya, tiba-tiba datang satu bidan lagi jelaskan, saya bilang kami sudah paham tapi kenapa kamu teruskan permasalahannya,” jelasnya.
Petugas medis tersebut pun mengusir Salesius dan suami Selviana. Mereka sebut bahwa ruangan tersebut bukan ruangan Salesius. Ruangan tersebut merupakan ruangan kerja tenaga medis.
“Saya pun keluar dan lansung pamit pulang kepada saudara saya karena takut ada keribut semakin besar. Sesudah itu mereka interogasi saudara saya, untuk tanya siapa saya. Saudara saya pun berpikir kalau ini saya kasih tahu karena dia keluarga saya maka proses persalinan istri saya tidak di perhatikan. Sehingga pada saat itu dia bilang saya tidak kenal. Ternyata mereka merekam apa yang dia sampaikan sehingga mereka mengklaim bahwa saya bukan keluarga dari Almarhumah,” tukasnya.


