JAKARTA – Mentari pagi di Anjungan Nusa Tenggara Timur (NTT), Taman Mini Indonesia Indah (TMII) belum terlihat terang. Namun semangat panitia festival budaya Ikatan Keluarga Manggarai Jabodetabek (IKAMADA) semakin membara.
Para panitia dibawah koordinasi Ketua IKAMADA, Rikard Bagun telah berada di Anjungan NTT pada Sabtu (1/8/2026). Setiap seksi menjalankan tugasnya masing-masing. Ada yang pasang tenda, latihan geladi resik hingga diskusi jumlah tamu yang hadir.
Semua persiapan dinyatakan telah matang. Pada Minggu, 2 Agustus 2026 sekira pukul 06.00 WIB, para panitia dengan pakaian adat khas Manggarai yaitu tenunan songket telah berada di lokasi acara. Namun peserta sudah antre sejak pukul 05.00 WIB untuk masuk TMII.
Taman Mini berubah menjadi “tanah Nuca Lale”. Pasalnya, para panitia, para penari hingga tamu undangan semuanya memakai pakaian adat Manggarai. Niatnya cuma merawat budaya peninggalan nenek moyang ribuan tahun silam.
“Kita ingat kampung halaman. Budaya adalah jati diri kita. Kekhasan budaya yang persatukan kita hari ini. Jangan lupa kampung halaman, tempat kita dilahirkan (Kuni agu Kalo),” kata Macok, mahasiswa Manggarai yang tinggal di Bekasi.
Ribuan pengunjung pun telah memadati Plaza Kori Agung. Sebab festival budaya itu dimulai dari lokasi tersebut. Lenggak lenggok para penari dari sanggar AK-5 yang diiringi lagu “Manggarai Tana Ge” karya grup Lalong Liba menjadi penanda dimulainya festival yang diikuti lautan manusia Manggarai Raya itu.

Selanjutnya acara penerimaan tamu (meka landang) dari Ikatan Keluarga Manggarai Bekasi (IKAMASI) dimulai yang dipandu oleh Sekjen IKAMADA, Yohanes Yosef Nembo atau Jhon Nembo.
Acara tersebut ditandai dengan pemberian “tuak tiba” kepada IKAMASI yang diwakili oleh Damianus Ambur. Sementara dari IKAMADA diwakili oleh Hendrikus Jehaman yang ditemani oleh Ketua Panitia, Libertus Jehani. Selanjutnya tarian dari sanggar Lalong Beo dan atraksi singkat tarian caci dari Meka Landang IKAMASI.
Acaranya berlangsung hikmat itu bahkan disaksikan para pengunjung lain yang tengah melakukan jalan sehat di wilayah Taman Mini. Mereka tak mengurung niat untuk abadikan momen tarian khas Manggarai yang dibalut pakaian adat itu.
Kirab
Gong pun ditabuh oleh Ketua IKAMADA sekira pukul 10.15 WIB. Kirab dimulai yang diikuti oleh Diaspora Manggarai utusan Jakarta Pusat, Jakarta Utara, Jakarta Barat, Jakarta Timur, Jakarta Selatan, Bekasi, Tangerang, Depok dan Bogor.
Kegiatan berjalan bersama itu dimulai dari Plaza Kori Agung menuju Anjungan NTT. Berdasarkan laporan panitia, para peserta yang mengikuti kirab itu 1.000 orang.
Kirab tersebut diiringi nyanyian adat, bunyi gendang dan gong. Sempat berhenti di depan dua Gereja TMII sebagai bentuk penghormatan karena ibadah Minggu sedang berlangsung.
Sepanjang perjalanan yang memakan waktu 15 menit itu, para peserta kirab menyanyikan lagu bernuansa budaya Manggarai. Bunyi gong dan genda dengan genre Mbata dan Ndudundake mengiringi perjalanan budaya itu.
“Hari ini kami merasakan seolah kembali ke kampung halaman. Terima kasih telah menyelenggarakan festival ini. Video kegiatan ini akan menjadi kenangan bagi anak cucu kita ribuan tahun yang akan datang,” kata salah satu peserta yang lengkap memakai pakaian adat dan retu di kepalanya.
Tepat pukul 10.30 WIB, peserta kirab dan meka landang (tamu) tiba di natas labar (halaman) anjungan NTT. Tuan rumah langsung menerima mereka di pintu masuk Anjungan NTT.

Selanjutnya dipersilahkan masuk dan mengelilingi halaman “kampung” yang telah dipersiapkan oleh para panitia dan tuan rumah. Sementara media mainstream baik televisi maupun media online turut melaporkan kegiatan festival tersebut.
Sejumlah stasiun televisi nasional, seperti DAAI TV, CNN TV, Garuda TV, dan Gratia TV hadir meliput. Selain itu, ratusan content creator, YouTuber, serta pegiat media sosial juga mendokumentasikan kegiatan itu.
Bunyi gong dan gendang terus menggema di lokasi acara. Para penari tarian caci pun mulai bergoyang sebelum acara caci dimulai. Para penonton masing-masing memadati setiap sudut anjungan.
Selain pertunjukan, festival menyediakan stan kuliner yang menyajikan hidangan khas Manggarai, seperti kompiang, soto ayam, kopi Congkar Manggarai, menu dapur molas, ayam Putus Lidah, Cucur Gola Manggarai, menu daun kelor, dan menu khas lainnya.
Panitia juga menyiapkan 1.000 porsi soto ayam gratis untuk pengunjung. Pelaku UMKM Manggarai memang juga memanfaatkan acara untuk mempromosikan produk kuliner dan tenun songke, kain tradisional yang menjadi kebanggaan warga Manggarai.
“Songke tidak hanya ragam hias. Banyak motif terinspirasi alam, seperti flora, baru kemudian fauna. Karena asosiasi pertama orang Manggarai adalah alam,” ujar Rikard Bagun.
Festival kali ini mengusung tema “REKO BEO TANAH KUNI AGU KALO,” yang bermakna mencintai dan merawat nilai-nilai budaya. Menurut Gaudens Wodar, salah satu tokoh Manggarai, tema itu menegaskan bahwa cinta terhadap budaya adalah wujud menjaga spiritualitas dan nilai-nilai dasar kehidupan.
“Merawat budaya berarti merawat identitas dan asal-usul, meski kita merantau jauh,” kata Gaudens, mantan aktivis PMKRI.
Ia menambahkan bahwa meski pertunjukan caci tampak seperti saling pukul, praktik itu diatur oleh norma dan etika ketat, sebuah warisan spiritual yang perlu dilestarikan. Ia juga meminta dukungan pemerintah agar tradisi ini berkelanjutan.
Festival diselenggarakan atas inisiatif IKAMADA bekerja sama dengan komunitas diaspora Manggarai se-Jabodetabek, Seperti Komunitas Perempuan Manggarai (KPM), AK5 Jakarta Barat, IKAMASI Bekasi dan DEBORA Depok Bogor Raya serta didukung oleh mahasiswa Manggarai yang sedang menempuh studi di berbagai kampus di Jabodetabek.
Ketua panitia, Libertus Jehani, menyatakan panitia menyediakan sekitar 650 tiket gratis untuk memudahkan partisipasi warga dan rombongan kirab.
Menurut penyelenggara, Festival Budaya Manggarai bukan sekadar hiburan, melainkan sarana memperkenalkan Manggarai sebagai destinasi wisata budaya. Kegiatan ini diharapkan membuka ruang bagi pengembangan ekonomi kreatif lokal dan pelestarian tradisi.
Dengan kombinasi pertunjukan tradisional, kuliner, dan partisipasi diaspora, festival kali ini memperlihatkan bagaimana komunitas perantau menjaga akar budaya sambil memperkuat jaringan sosial di perantauan.
Gelaran di TMII menjadi contoh nyata bagaimana identitas daerah dapat dipertahankan dan disampaikan ke publik yang lebih luas.
Festival tersebut pun ditutup dengan acara bebas bagi anak muda. Lantunan lagu “Kolang Kokor Gola, Seni Senang, Langu Go dan lain-lain” menjadi lagu wajib setiap acara penutup festival Manggarai.


