JAKARTA – Anggota Komisi V DPR RI dari Fraksi Partai NasDem, Mori Hanafi, menyoroti sejumlah persoalan krusial dalam pelaksanaan arus mudik dan balik Lebaran 2026, khususnya terkait infrastruktur jalan tol dan manajemen lalu lintas.
Hal tersebut disampaikan dalam Rapat Kerja (Raker) dan Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi V DPR RI bersama Menteri Perhubungan, Menteri Pekerjaan Umum, Kepala BMKG, serta Kepala BNPP/Basarnas dengan agenda evaluasi mudik Lebaran 2026.
Mori mengungkapkan, dalam kunjungan spesifik Komisi V ke Pelabuhan Merak pada 12–13 Maret 2026, rombongan mengalami keterlambatan signifikan akibat perbaikan jalan di ruas Tol Jakarta–Tangerang–Merak.
Perjalanan yang seharusnya lebih singkat justru memakan waktu hingga 3,5 jam saat berangkat dan 4 jam saat kembali. Ia mempertanyakan mengapa perbaikan masih dilakukan hanya dua hari sebelum periode puncak mudik.
“Jalan tol itu punya standar pelayanan minimum (SPM). Seharusnya menjelang Lebaran sudah dalam kondisi optimal,” ujarnya.
Mori juga menyoroti kesiapan ruas tol yang telah lama beroperasi, seperti Tol Jakarta–Tangerang yang beroperasi sejak 1984 dan Tol Tangerang–Merak sejak 1992.
Menurutnya, ketidaksiapan menghadapi lonjakan kendaraan saat Lebaran menunjukkan lemahnya perencanaan dan antisipasi.
Sorotan tajam juga diarahkan ke Tol Cikopo–Palimanan (Cipali). Mori menyebut penggunaan bahu jalan saat arus mudik sebagai indikasi kapasitas jalan yang tidak memadai.
Selain itu, keberadaan rest area dinilai menjadi salah satu sumber kemacetan, terutama saat arus balik. Ia mengusulkan konsep rest area alternatif dengan fungsi terbatas, seperti khusus toilet atau pengisian BBM, untuk mengurangi kepadatan.
“Mayoritas pengguna hanya butuh BBM dan toilet. Ini bisa dipecah agar tidak menumpuk di satu titik,” jelasnya.
Mori menilai penanganan arus balik, khususnya pada 26–27 Maret 2026, sebagai titik terlemah. Prediksi puncak arus balik yang diumumkan pemerintah pada 25, 28, dan 29 Maret dinilai justru memicu pergeseran pergerakan masyarakat ke tanggal lain.
Akibatnya, terjadi kemacetan parah di KM 164 Tol Cipali. Situasi diperburuk dengan penutupan rest area yang menyebabkan kendaraan berhenti di bahu jalan hingga menyisakan satu lajur aktif.
“Ini pertama kali dalam sejarah, kemacetan begitu parah tanpa penanganan memadai,” tegasnya.
Meski mengapresiasi kelancaran arus mudik, Mori menegaskan bahwa arus balik harus menjadi fokus evaluasi utama. Ia juga mengkritik kebijakan rekayasa lalu lintas seperti contraflow yang dinilai terlambat diterapkan.
“Secara umum bagus, tapi ada noda besar pada 27 Maret. Ini harus jadi pelajaran agar tidak terulang,” pungkasnya


