RUTENG– Asisten istri Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Republik Indonesia, Istri Bupati Manggarai dan Wakil Bupati Manggarai Fabianus Abu menyambangi warga terdampak gempa di Desa Satar Ngkeling, Kecamatan Wae Ri’i, Kabupaten Manggarai, Jumat (4/9/2026).
Dalam kunjungan tersebut, Istri Bupati Manggarai mengimbau kepada para warga Desa Satar Ngkeling untuk tidak membersihkan reruntuhan rumah. Pasalnya, rumah tersebut bakal diverifikasi ulang oleh pihak kabupaten.
“Bapa mama jangan dulu membersihkan reruntuhan, karena setelah pendataan yang dilakukan oleh aparat desa, pihak kabupaten akan melakukan verifikasi ulang,” katanya.
Ia menegaskan gempa 15 Agustus bukan satu-satunya kejadian. Gempa susulan besar juga terjadi pada 20 dan 27 Agustus, yang membuat rumah-rumah yang sebelumnya hanya retak atau rusak ringan-sedang akhirnya mengalami kerusakan berat.
“Karena gempa ini bukan hanya pada 15/8/2026, tapi ada gempa susulan setelah itu yang besar juga terjadi pada tanggal 20 dan 27, itu yang besar. Yang sebelumnya retak atau rusak sedang, akhirnya rusak berat,” tegasnya.
Ia menjelaskan, hari ini merupakan tahap kompilasi data dari berbagai unsur pemerintah aparat desa, ASN, kepolisian, Kodim, kejaksaan, dan inspektorat. Setelah kompilasi ini selesai, data akan diserahkan ke negara untuk disahkan.
“Jadi sebelum disahkan, dilarang membersihkan kehancuran yang ada di rumah. Biarpun ada uang, jangan dulu diperbaiki, supaya pemerintah tidak menganggap rumah ini masih bagus,” ujarnya.
Ia juga menyoroti kendala pasokan terpal, yang menurutnya berkurang karena saat ini banyak masyarakat menggunakan tenda/terop untuk keperluan pesta, sehingga produksi terpal dari luar daerah pun tersendat.
“Yang dibawa donatur baru akan sampai besok atau lusa, dan itu pun tidak banyak satu desa hanya kebagian 66 lembar. Tapi kita berharap bantuan dari Pemkab Manggarai bisa segera datang,” katanya.
Ia menekankan pentingnya saling menghargai di tengah keterbatasan bantuan, mengingat gempa ini berdampak di 171 wilayah, bukan hanya di Satar Ngkeling.
“Kalau di Desa Satar Ngkeling saja ada gempa, semua bantuan pasti ada di sini. Tapi karena ada 171 wilayah yang terdampak, jadi hanya dapat sedikit dan mungkin tidak pas, tapi saling mengertilah,” tegasnya.
Ia menambahkan, jika ada kekurangan, semua keluhan bisa dilontarkan kepada Bupati, karena Bupati sendiri telah menyatakan bersedia menanggung semua kesalahan.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Bupati, Wakil Bupati, dan seluruh jajaran pemerintah tengah berupaya mempercepat pendirian hunian sementara (huntara).
“Jadi kalau Bapa Ibu punya rumah yang rusak dan punya lahan luas, bisa dibuatkan huntara di belakang supaya tidak lagi tidur di tenda. Nanti saat pemerintah mendirikan hunian tetap (huntep), huntara itu bisa dijadikan dapur,” jelasnya.
“Kalau rusak berat atau rata dengan tanah, nanti warga tinggal terima kunci, bukan kita yang bangun, karena itu ditangani kementerian. Kalau tidak salah, tipenya 3×6,” katanya.
Dalam kunjungan tersebut, rombongan juga membagikan ratusan paket sembako kepada warga Desa Satar Ngkeling yang terdampak gempa.


